JavaScript Free Code

Friday, 8 April 2011

Menjadi Contoh

Puji syukur kita haturkan kehadhirat Ilahi Robbi yang telah memberikan nikmat kepada kita, terutama nikmat hidayah, sholawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan Nabi besar Muhammad saw., dan segenap sohabat dan keluarganya.
Realita dalam masyarakat sekarang ini untuk mendapat seorang figure panutan, (yang  ‘alim, faqih, zuhud, mutawari’, amanah, dan ahli ibadah)  dalam masyarakat tidaklah mudah, karena zaman sekarang ini sudah mulai krisis calon pemimpin yang berakhlaqul karimah.  Sabda Rasulullah:  “Sesungguhnya manusia itu sebagaimana unta seratus, hampir tidak dijumpai dalam unta seratus tersebut, seekorpun yang dapat dijadikan kendaraan yang handal”. (HR. Bukhari).
Saat ini minim figur muslim yang dapat dijadikan panutan, hal ini akan mengancam perkembangan ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits di masa mendatang.  Dikhawatirkan orang muslim mencari figur  non muslim, bahkan bisa terjadi remaja Islam mengidolakan orang-orang di luar Islam yang tidak tahu agama, bahkan ahli maksiat.
Melihat gejala tersebut di atas hendaknya kita segera sadar dan bertindak cepat agar keadaan tidak semakin parah, jika tidak segera ditangani, tidak menunutup kemungkinan  ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits akan punah sedikit demi sedikit.
Solusi dari permasalahan tersebut antara lain:
  1. Bagi para RO’IN :  tokoh masyarakat, tokoh agama, umara’, ‘urafa’(orang yang dijadikan pengurus suatu lembaga, instansi, dll). Umana’ (orang yang diberi amanah untuk suatu tugas tertentu).
Seorang muslim yang diangkat/dipilih menjadi pengurus/pemimpin supaya menyadari bahwa dengan amanah(jabatan) itu, akan menjadi orang yang mulia, terhormat, mempunyai kesempatan untuk memperjuangkan ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits yang pada akhirnya dapat meningkatkan derajat surganya, dapat berbuat baik pada masyarakat, dengan memberikan pelayanan yang baik, bisa mengayomi masyarakat. Rasulullah menjelaskan: “As-Sulthonu dhillullah fii al-ard”, artinya: “Pemimpin (Sulthon) adalah naungannya Allah di bumi”.“Khoiru annaasi anfaahum linnasi” artinya : “Sebaik-baiknya manusia adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain”.

Dipilihnya/dijadikannya pengurus/pemimpin berarti dipercaya untuk melaksanakan amanah, yang  tidak setiap orang muslim dinilai mampu untuk menjalankan amanah tersebut, maka harus bersyukur atas kepercayaan yang diberikan.  Kesyukuran itu harus diimplementasikan dalam bentuk semangat, giat dalam menetapi kewajibannya, supaya bisa dirasakan manfaatnya bagi masyarakat yang lain.  Sabda Rasulullah saw:

Disamping semangat dalam mengurusi RO’YAH (rakyat/masyarakat), para ro’in harus meningkatkan amal ibadah dan meningkatkan budi pekertinya,  menjauhi kemaksiatan, karena ro’in selalu dilihat, dicermati oleh ro’yahnya.  Apabila ada ro’in yang melanggar norma agama dan norma susila dapat dijadikan bahan cemoohan atau dijadikan dasar pembenar atas pelanggaran yang mereka lakukan, sehingga remaja sekarang jika berbuat maksiat berdalih karena pemimpin kami juga demikian. Ro’in yang amanah dan  menetapi peraturan agama, akan menjadi cermin/panutan bagi ro’yah.  Orang yang punya amalan baik dan dicontoh(diikuti) orang lain, mereka akan mendapat pahala  yang besar, sebagaimana sabda Rasulullah saw.: “Barang siapa memberi keteladanan dalam Islam dengan keteladanan yang baik, maka baginya mendapat pahala keteladanan itu, dan pahala orang-orang yang mengamalkan keteladanan  itu, tanpa mengurangi pahala mereka (yang mengamalkan) sedikit pun”.(HR. Ahmad).
Para  Ro’in hendaknya memberikan keteladanan yang baik diantaranya:
  • Memberikan contoh dalam ketertiban menetapi ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits, tertib sholat lima waktu, dan menjauhi kemaksiatan.
  • Dalam kehidupan bermasyarakat dapat memberikan contoh keteladanan seperti 6 thobi’at luhur: Jujur, amanah, muzhid mujhid (hemat/sederhana dan kerja keras), rukun, kompak dan kerjasama yang baik.
  1. Bagi Ro’yah (rakyat/masyarakat)
Kita harus memahami bahwa orang iman adalah sebaik-baiknya makhluk, sebaliknya orang yang tidak beriman adalah sejelek-jeleknya makhluk, sebagaimana Firman Allah:”Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab, dan orang-orang musrik (akan masuk) ke neraka jahanam dalam keadaan kekal di dalamnya, mereka adalah sejelek-jeleknya makhluk” (QS. Al-Bayinah:6). 

Orang yang kaya berpangkat, pandai, penuh dengan prestasi, ganteng lagi gagah, seolah tanpa cacat, tetapi jika tidak beriman, berarti  hina di sisi Allah, dan   orang iman yang asalnya dari desa  hitam lagi pendek, itu masih lebih baik dari pada mereka, karena orang yang tidak beriman adalah sejelek-jeleknya makhluk, sangat tidak pantas kita jadikan panutan.  Jika diantara mereka ada yang jadi pejabat, dikhawatirkan tidak memikirkan kesejahteraan rakyatnya, orientasinya pada bisnis, mencari  keuntungan pribadi.  Orang yang beriman (orang yang dicintai Allah)  jangan sekali-kali mengagumi  orang-orang yang menjadi musuh Allah, Rasul dan juga musuh orang iman.

Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Hud ayat 113:” Janganlah kalian condong kepada orang-orang yang dholim, maka neraka akan menimpa kalian….”
Untuk bisa mengidolakan sosok dari kalangan muslim, maka kita harus menyadari dan memahami bahwa setiap manusia pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan, janganlah kita hanya memandang dari sisi kekurangannya saja, akan tetapi kita harus bisa  melihat seseorang itu dari kelebihan-kelebihan yang dia miliki, sehingga kita bisa mencontoh kelebihan-kelebihan yang mereka miliki, dan jika akan mengidolakan tokoh yang tiada cela yaitu mengidolakan/ mencontoh Rasulullah saw.
Allah berfirman :” Laqod kaana fii rasuulillahi uswatun hasanatun liman kaana yarjullaha walyauma al-akhirata wa dzakarolloha katsiran” (QS. Al-Ahzab:21), artinya: “Niscaya ada pada diri Rasulullah adalah contoh yang baik, bagi orang yang mengharapkan bertemu Allah dan hari akhir dan banyak ingat pada Allah”.
Demikian juga yang dijelaskan Rasulullah dalam Al-Hadits:  “Sesungguhnya dijadikan imam/pemimpin itu untuk diikuti” (HR. Bukhari).
Keteladanan dalam rumah tangga sangat diperlukan, sebagai seorang suami dapat memberikan contoh di dalam rumah tangga tersebut terutama dalam pendidikan anak, karena mendidik anak dengan keteladanan, anak akan mudah mengikuti.  Mendidik anak agar mau sholat, orang tuanya mencontohi, tentunya melaksankan sholat juga, jangan hanya menyuruh saja sedangkan orang tuanya tidak sholat.  Perhatikan

Firman Allah :
” Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian  bisa mengatakan pada sesuatu yang  kalian tidak melaksanakannya* Besar sekali kebencian(dosa) di sisi Allah, jika kalian bisa mengatakan pada sesuatu yang  kalian tidak bisa  melaksanankan” (QS. Ash-Shof: 2-3)
Demikian uraian singkat tentang keteladanan, semoga bermanfaat bagi pembaca. Alhamdulillah jaza kumullahu khoiran.

Written by Budi Luhur dan Ariewayq

Allah Satu-Satunya Pemberi Rizki

Kita telah mengetahui bahwa Allah satu-satunya pemberi rizki. Rizki sifatnya umum, yaitu segala sesuatu yang dimiliki hamba, baik berupa makanan dan selain itu. Dengan kehendak-Nya, kita bisa merasakan berbagai nikmat rizki, makan, harta dan lainnya. Namun mengapa sebagian orang sulit menyadari sehingga hatinya pun bergantung pada selain Allah. Lihatlah di masyarakat kita bagaimana sebagian orang mengharap-harap agar warungnya laris dengan memasang berbagai penglaris. Agar bisnis komputernya berjalan mulus, ia datang ke dukun dan minta wangsit, yaitu apa yang mesti ia lakukan untuk memperlancar bisnisnya dan mendatangkan banyak konsumen. Semuanya ini bisa terjadi karena kurang menyadari akan pentingnya aqidah dan tauhid, terurama karena tidak merenungkan dengan baik nama Allah “Ar Rozzaq” (Maha Pemberi Rizki).
Allah Satu-Satunya Pemberi Rizki
Sesungguhnya Allah adalah satu-satunya pemberi rizki, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal itu. Karena Allah Ta’ala berfirman,
“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi?” (QS. Fathir: 3)
“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah.” (QS. Saba’: 24)
Tidak ada yang berserikat dengan Allah dalam memberi rizki. Oleh karena itu, tidak pantas Allah disekutukan dalam ibadah, tidak pantas Allah disembah dan diduakan dengan selain. Dalam lanjutan surat Fathir, Allah Ta’ala berfirman,
“Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah; maka mengapakah engkau bisa berpaling (dari perintah beribadah kepada Allah semata)?” (QS. Fathir: 3)
Selain Allah sama sekali tidak dapat memberi rizki. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rezki kepada mereka sedikitpun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit juapun).” (QS. An Nahl: 73)
Seandainya Allah menahan rizki manusia, maka tidak ada selain-Nya yang dapat membuka pintu rizki tersebut. Allah Ta’ala berfirman,
“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathir: 2). Itu memang benar, tidak mungkin ada yang dapat memberikan makan dan minum ketika Allah menahan rizki tersebut.
Allah Memberi Rizki Tanpa Ada Kesulitan
Allah memberi rizki tanpa ada kesulitan dan sama sekali tidak terbebani. Ath Thohawi rahimahullah dalam matan kitab aqidahnya berkata, “Allah itu Maha Pemberi Rizki dan sama sekali tidak terbebani.” Seandainya semua makhluk meminta pada Allah, Dia akan memberikan pada mereka dan itu sama sekali tidak akan mengurangi kerajaan-Nya sedikit pun juga. Dalam hadits qudsi disebutkan, Allah Ta’ala berfirman,
“Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta semua jin dan manusia berdiri di atas bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuh permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang menyerap air ketika dimasukkan ke dalam lautan.” (HR. Muslim no. 2577, dari Abu Dzar Al Ghifari). Mengenai hadits ini, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits ini memotivasi setiap makhluk untuk meminta pada Allah dan meminta segala kebutuhan pada-Nya.”[1]
Dalam hadits dikatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allah Ta’ala berfirman padaku, ‘Berinfaklah kamu, niscaya Aku akan berinfak (memberikan ganti) kepadamu.’ Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pemberian Allah selalu cukup, dan tidak pernah berkurang walaupun mengalir siang dan malam. Adakah terpikir olehmu, sudah berapa banyakkah yang diberikan Allah sejak terciptanya langit dan bumi? Sesungguhnya apa yang ada di Tangan Allah, tidak pernah berkurang karenanya.” (HR. Bukhari no. 4684 dan Muslim no. 993)
Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah berkata, “Allah sungguh Maha Kaya. Allah yang memegang setiap rizki yang tak terhingga, yakni melebihi apa yang diketahui setiap makhluk-Nya.”[2]
Allah Menjadikan Kaya dan Miskin dengan Adil
Allah memiliki berbagai hikmah dalam pemberian rizki. Ada yang Allah jadikan kaya dengan banyaknya rizki dan harta. Ada pula yang dijadikan miskin. Ada hikmah berharga di balik itu semua. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki.” (QS. An Nahl: 71)
Dalam ayat lain disebutkan,
“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Al Isro’: 30)
Dalam ayat kedua di atas, di akhir ayat Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya”. Ibnu Katsir menjelaskan maksud penggalan ayat terakhir tersebut, “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Melihat manakah di antara hamba-Nya yang pantas kaya dan pantas miskin.” Sebelumnya beliau rahimahullah berkata, “Allah menjadikan kaya dan miskin bagi siapa saja yang Allah kehendaki. Di balik itu semua ada hikmah.”[3]
Di tempat lain, Ibnu Katsir menerangkan firman Allah,
“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27) Beliau rahimahullah lantas menjelaskan,“Seandainya Allah memberi hamba tersebut rizki lebih dari yang mereka butuh , tentu mereka akan melampaui batas, berlaku kurang ajar satu dan lainnya, serta akan bertingkah sombong.”
Selanjutnya Ibnu Katsir menjelaskan lagi, “Akan tetapi Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.”[4]
Dalam sebuah hadits disebutkan,
“Sesungguhnya di antara hamba-Ku, keimanan barulah menjadi baik jika Allah memberikan kekayaan padanya. Seandainya Allah membuat ia miskin, tentu ia akan kufur. Dan di antara hamba-Ku, keimanan barulah baik jika Allah memberikan kemiskinan padanya. Seandainya Allah membuat ia kaya, tentu ia akan kufur”.[5] Hadits ini dinilai dho’if(lemah), namun maknanya adalah shahih karena memiliki dasarshahih dari surat Asy Syuraa ayat 27.
Kaya Bukan Tanda Mulia, Miskin Bukan Tanda Hina
Ketahuilah bahwa kaya dan miskin bukanlah tanda orang itu mulia dan hina. Karena orang kafir saja Allah beri rizki, begitu pula dengan orang yang bermaksiat pun Allah beri rizki. Jadi rizki tidak dibatasi pada orang beriman saja. Itulah lathif-nya Allah (Maha Lembutnya Allah). Sebagaimana dalam ayat disebutkan,
“Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah yang Maha kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Asy Syura: 19)
Sifat orang-orang yang tidak beriman adalah menjadikan tolak ukur kaya dan miskin sebagai ukuran mulia ataukah tidak. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan mereka berkata: “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak- anak (daripada kamu) dan Kami sekali-kali tidak akan diazab. Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang Tinggi (dalam syurga).” (QS. Saba’: 35-37)
Orang-orang kafir berpikiran bahwa banyaknya harta dan anak adalah tanda cinta Allah pada mereka. Perlu diketahui bahwa jika mereka, yakni orang-orang kafir diberi rizi di dunia, di akherat mereka akan sengsara dan diadzab. Allah subhanahu wa ta’ala telah menyanggah pemikiran rusak orang kafir tadi dalam firman-Nya,
“Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al Mu’minun: 56)
Bukanlah banyaknya harta dan anak yang mendekatkan diri pada Allah, namun iman dan amalan sholeh. Sebagaiman dalam surat Saba’ di atas disebutkan,
“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh.” Penjelasan dalam ayat ini senada dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian” (HR. Muslim no. 2564, dari Abu Hurairah)
Kaya bisa saja sebagai istidroj dari Allah, yaitu hamba yang suka bermaksiat dibuat terus terlena dengan maksiatnya lantas ia dilapangkan rizki. Miskin pun bisa jadi sebagai adzab atau siksaan. Semoga kita bisa merenungkan hal ini.
Ibnu Katsir rahimahullah ketika menerangkan firman Allah,
“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku“. (QS. Al Fajr: 15-16); beliau rahimahullah berkata, “Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala mengingkari orang yang keliru dalam memahami maksud Allah meluaskan rizki. Allah sebenarnya menjadikan hal itu sebagai ujian. Namun dia menyangka dengan luasnya rizki tersebut, itu berarti Allah memuliakannya. Sungguh tidak demikian, sebenarnya itu hanyalah ujian. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al Mu’minun: 55-56)
Sebaliknya, jika Allah menyempitkan rizki, ia merasa bahwa Allah menghinangkannya. Sebenarnya tidaklah sebagaimana yang ia sangka. Tidaklah seperti itu sama sekali. Allah memberi rizki itu bisa jadi pada orang yang Dia cintai atau pada yang tidak Dia cintai. Begitu pula Allah menyempitkan rizki pada pada orang yang Dia cintai atau pun tidak. Sebenarnya yang jadi patokan ketika seseorang dilapangkan dan disempitkan rizki adalah dilihat dari ketaatannya pada Allah dalam dua keadaan tersebut. Jika ia adalah seorang yang berkecukupan, lantas ia bersyukur pada Allah dengan nikmat tersebut, maka inilah yang benar. Begitu pula ketika ia serba kekurangan, ia pun bersabar.”[6]
Sebab Bertambah dan Barokahnya Rizki
Takwa kepada Allah adalah sebab utama rizki menjadi barokah. Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan mengenai Ahli Kitab,
“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Rabbnya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. dan Alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.” (QS. Al Maidah: 66)
Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al A’rof: 96)
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluark, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)
“Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak).” (QS. Al Jin: 16)
“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)
Sebab Berkurang dan Hilangnya Barokah Rizki
Kebalikan dari di atas, rizki bisa berkurang dan hilang barokahnya karena maksiat dan dosa. Mungkin saja hartanya banyak, namun hilang barokah atau kebaikannya. Karena rizki dari Allah tentu saja diperoleh dengan ketaatan. Allah Ta’ala berfirman,
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Rum: 41). Yang dimaksudkan kerusakan di sini—kata sebagian ulama– adalah kekeringan, paceklik, hilangnya barokah (rizki). Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Yang dimaksudkan kerusakan di sini adalah hilangnya barokah (rizki) karena perbuatan hamba. Ini semua supaya mereka kembali pada Allah dengan bertaubat.” Sedangkan yang dimaksud dengan kerusakan di laut adalah sulitnya mendapat buruan di laut. Kerusakan ini semua bisa terjadi karena dosa-dosa manusia.[7]
Yang Penting Berusaha dan Tawakkal
Keimanan yang benar rizki bukan hanya dinanti-nanti. Kita bukan menunggu ketiban rizki dari langit. Tentu saja harus ada usaha dan tawakkal, yaitu bersandar pada Allah. Dari Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”[8]
Ibnu ‘Allan mengatakan bahwa As Suyuthi mengatakan, “Al Baihaqi mengatakan dalam Syu’abul Iman:
Hadits ini bukanlah dalil untuk duduk-duduk santai, enggan melakukan usaha untuk memperoleh rizki. Bahkan hadits ini merupakan dalil yang memerintahkan untuk mencari rizki karena burung tersebut pergi di pagi hari untuk mencari rizki. Jadi, yang dimaksudkan dengan hadits ini –wallahu a’lam-: Seandainya mereka bertawakkal pada Allah Ta’ala dengan pergi dan melakukan segala aktivitas dalam mengais rizki, kemudian melihat bahwa setiap kebaikan berada di tangan-Nya dan dari sisi-Nya, maka mereka akan memperoleh rizki tersebut sebagaimana burung yang pergi pagi hari dalam keadaan lapar, kemudian kembali dalam keadaan kenyang. Namun ingatlah bahwa mereka tidak hanya bersandar pada kekuatan, tubuh, dan usaha mereka saja, atau bahkan mendustakan yang telah ditakdirkan baginya. Karena ini semua adanya yang menyelisihi tawakkal.”[9]
Rizki yang Paling Mulia
Sebagian kita menyangka bahwa rizki hanyalah berputar pada harta dan makanan. Setiap meminta dalam do’a mungkin saja kita berpikiran seperti itu. Perlu kita ketahui bahwa rizki yang paling besar yang Allah berikan pada hamba-Nya adalah surga (jannah). Inilah yang Allah janjikan pada hamba-hamba-Nya yang sholeh. Surga adalah nikmat dan rizki yang tidak pernah disaksikan oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah tergambarkan dalam benak pikiran. Setiap rizki yang Allah sebutkan bagi hamba-hamba-Nya, maka umumnya yang dimaksudkan adalah surga itu sendiri. Hal ini sebagaimana maksud dari firman Allah Ta’ala,
“Supaya Allah memberi Balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezki yang mulia.” (QS. Saba’: 4)
“Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya.” (QS. Ath Tholaq: 11)[10]
Jika setiap kita memahami hal ini, yang Allah satu-satunya pemberi rizki dan sungguh Allah benar-benar yang terbaik bagi kita, maka tentu saja kita tidak akan menggantungkan hati pada selain Allah untuk melariskan bisnis. Allah Ta’ala sungguh benar-benar Maha Mencukupi. Allah Maha Mengetahui manakah yang terbaik untuk hamba-Nya, sehingga ada yang Dia jadikan kaya dan miskin. Setiap hamba tidak perlu bersusah payah mencari solusi rizki dengan meminta dan menggantungkan hati pada selain-Nya. Tidak perlu lagi bergantung pada jimat dan penglaris. Gantilah dengan banyak memohon dan meminta kemudahan rizki dari Allah. Wallahu waliyyut taufiq. (*)
Finished on Monday, 2nd Dzulhijjah 1431 H (8/11/2010), in KSU, Riyadh, KSA
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id
Catatan Kaki:
[1] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al Arnauth, Muassasah Ar Risalah, 1419, 2/48
[2] Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379, 13/395.
[3] Tafsir Al Qur’an Al ‘zhim, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, 8/479
[4]Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12/278.
[5]As Silsilah Adh Dho’ifah no. 1774. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if.
[6] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14/347.
[7] Tafsir Al Qurthubi (Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an), Mawqi’ Ya’sub (sesuai standar cetakan), 14/40.
[8] HR. Ahmad (1/30), Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164, dan Ibnu Hibban no. 402. Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no.310 mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Muqbil Al Wadi’i dalam Shohih Al Musnad no. 994 mengatakan bahwa hadits ini hasan.
[9] Dalilul Falihin, Ibnu ‘Alan Asy Syafi’i, Asy Syamilah, 1/335.
[10] Bahasan dalam tulisan ini, kami kembangkan dari tulisan di web:

Wednesday, 6 April 2011

KEMAKSIATAN (ZINA)


Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah Azza Wajalla atas limpahan rahmat dan karunia kepada kita semua. Sholawat dam salam semoga tercurah kepada Nabi besar Muhammad SAW, segenap keluarga dan sahabatnya.

Sebagai orang muslim kita harus memahami dan menyadari bahwa kita adalah manusia yang telah dipilih oleh Allah dijadikan sebagai orang yang beriman dan bertaqwa dijadikan waliyullah, dimulyakan hidup di dunia dan di akherat, maka kemulyaan ini harus dipertahankan dengan senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan memperbanyak syukur dan beribadah kepada Allah, berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari dan menjauhi berbagai macam bentuk pelanggaran (kemaksiyatan) dan dosa, baik itu dosa yang kecil maupun dosa yang besar. Sebab sekecil apapun perbuatan yang melanggar peraturan Allah dan Rasul berakibat dosa dan sekecil apapun dosa pasti ada siksanya di akhirat.
Pada umumnya manusia dan khususnya orang iman menyadari bahwa berbuat dosa pasti akan menanggung akibatnya, tetapi keinginan untuk melakukan kadang-kadang sulit dibendung. Hal ini disebabkan setiap manusia diberi hawa nafsu yaitu keinginan-keinginan yang selalu mengajak pada kejelekan.
Firman Allah:
Artinya: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari nafsu). Sesungguhnya nafsu adalah selalu mengajak pada kejelekan” (QS. Yusuf: 53).

Perkembangan zamar akhir dengan adanya modernisasi/globalisasi banyak menawarkan berbagai macam bentuk dan praktek kemaksiyatan yang dihiasi dengan keindahan dan kenikmatan nyaris tak terkendalikan. Di sisi lain Allah juga menciptakan makhluk yang bernama Iblis/Syetan dan telah Allah tetapkan sebagai musuh manusia, telah bersumpah untuk menjadikan anak turun Adam menjadi orang yang tidak bersyukur dan dilaknati Allah,
sebagaimana tertuang dalam percakapan Iblis dengan Allah dalam Al-Qur’an:
Artinya: “Iblis berkata: karena Engkau telah menyesatkan padaku, niscaya sungguh aku akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (tho’at)”. (QS. Al-A’rof: 16-17).

1. Realita Kerusakan Zaman Akhir.
Hampir setiap hari kita disuguhi berbagai macam kemaksiyatan baik lewat berita media cetak, maupun elektronik, hampir dapat dipastikan selalu memberitakan tentang kemaksiyatan yang terjadi, seperti judi, narkoba, perzinaan, perampokan dan pembunuhan, dll. Kemaksiyatan semakin lama tidak semakin berkurang justru semakin meningkat, baik kwalitas maupun keragamannya. Perbuatan kemaksiyatan merupakan perbuatan yang nista dan dosa besar, karena pandainya Iblis dalam menyesatkan manusia maka kemaksiyatan tersebut seolah-olah menjadi perbuatan yang biasa dan ringan dosanya bahkan terkesan sebagai perbuatan baik dan benar. Pengaruh tersebut dimulai dengan memperhalus istilah-istilah yang sudah biasa dipakai dalam kemaksiyatan sampai pembenaran terhadap kemaksiyatan.

* Contoh pergeseran nilai lewat istilah yang diperluas:
- Lonthe/begenggek/pelacur disebut Wanita Tuna Susila (WTS) kemudian diperhalus menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK). Pelacur dianggap profesi/pekerjaan.
- Orang hamil karena zina diperhalus dengan hamil di luar nikah.
- Tempat pelacuran/rumah bordil diperhalus dengan lokalisasi.

• Contoh pembenaran terhadap kemaksiyatan.
– Bebasnya penjualan alat kontrasepsi dengan dalih untuk mencegah penyakit karena
seks bebas.
- Melegalkan tempat pelacuran/rumah bordil.
- Pamer aurot dibungkus dengan kontes ratu kecantikan.
- Melegalkan pernikahan laki-laki dengan laki-laki (homo).

a. Kemaksiyatan lewat Media Visual (TV, VCD, DVD, HP)
Dengan alasan rating yang tinggi serta meningkatkan kepuasan pemirsa, hampir semua stasiun televisi saat ini berlomba-lomba menayangkan tontonan yang sama sekali tidak mendidik seperti penyanyi yang mengenakan pakaian seronok, tayangan adegan yang tidak senonoh dan vulgar. Apalagi VCD dan DVD yang isinya tanpa melalui sensor. Teknologi HP di satu sisi kita terbantu dengan fasilitasnya untuk kelancaran kegiatan kita, namun kalau kita tidak hati-hati dalam menggunakan fasilitas HP (3G,MMS,SMS) memungkinkan bagi pengguna HP untuk melakukan kemaksiyatan, seperti melihat tayangan video porno dll.
b. Kemaksiyatan lewat Media Cetak
Kebebasan pers yang muncul akibat reformasi menyebabkan sebagian orang atau kelompok menerbitkan gagasan/idenya melalui media cetak, kemudahan perizinan menerbitkan buku, koran, tabloid, majalah disalahgunakan oleh orang tertentu. Saat ini media cetak mudah kita baca setiap saat sehingga memudahkan kita mengakses berita-berita actual yang kita perlukan seperti, politik, ekonomi, budaya dll. Akan tetapi dengan dalih kebebasan pers tidak sedikit orang yang tidak bertangung jawab menerbitkan majalah/tabloid yang dapat menjadi sarana kemaksiyatan, seperti majalah yang menayangkan gambar wanita telanjang dan bacaan porno lainnya.
c. Kemaksiyatan karena Perzinaan
Kemaksiyatan karena perzinaan dengan berbagai macam ragamnya seolah makin tak terbendung lagi penyebarannya. Perzinaan adalah puncak dari kemaksiyatan. Perzinaan biasanya diawali dengan perbuatan dosa yang dianggap remeh, seperti; saling tukar foto, chating, berpacaran di tempat yang sepi, membaca buku porno, melihat gambar porno, menonton tayangan porno, dll. Karena meremehkan dosa kecil akhirnya berani melakukan perbuatan dosa yang lebih besar, seperti melakukan onani/masturbasi, lesbian, homosex, free sex, kumpul kebo, bahkan pemerkosaan, dll. Yang setiap tahun angka statistiknya semakin meningkat. Akibat perbuatan zina Allah menurunkan adzabnya seperti; penyakit kelamin (GO,sipilis), HIV/AIDS yang hingga sekarang belum ditemukan obatnya dan segala sesuatu kehidupanya tidak barokah dan tidak di berkahi.

Perzinaan berakibat pula pada kriminalitas yang lain, karena merasa malu tidak punya suami seorang wanita yang hamil karena zina tega membunuh atau membuang anaknya sendiri yang baru lahir. Karena tidak berani bertanggung jawab seorang laki-laki tega menghabisi nyawa pasangan selingkuhnya, dll. Na’ubillahi mindzalik. Apa yang dapat kita perbuat ketika kemaksiyatan sudah merajalela disekitar kita?, mencegah?, memberantas?

2. Beratnya Dosa berbuat Zina
Perbuatan zina adalah perbuatan yang amat tercela, keji dan menjijikkan, maka wajarlah kalau Allah memberikan adzabnya yang sangat berat di dunia maupun di akhirat. Akibat perbuatan zina nama seseorang menjadi tercela, lebih-lebih pada wanita yang langsung menanggung akibatnya seperti kehamilan yang pasti menjadi aib bagi dirinya, mencoreng nama baik keluarga serta anak yang dilahirkan ikut menanggung penderitaan lahir dan batin. Apabila perzinaan sudah merajalela orang lain yang tak berdosa ikut menanggung resiko dan akibatnya serta murka dan adzab Allah lebih dahsyat di akhirat. Lebih-lebih perzinaan dilakukan dengan istri tetangganya maka akan lebih besar dosanya, disamping dosa zina itu sendiri, juga dosa menyakiti hati tetangganya dan menghancurkan rumah tangga (ngrusak pager ayu). Di dalam hukum Islam perzinaan termasuk pelanggaran berat dan dosa besar, apabila pelakunya masih bujangan (Ghoiru muhshon) maka harus dijilid (didera/dicambuk) 100 kali, dan apabila pelakunya sudah bersuami/beristri/janda/duda maka harus dirajam, dilempari batu sampai mati.

Sebagaimana ketetapan Allah di bawah ini:
Artinya: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya serastus kali dera dan janganlah belas kasihan kepada keduanyadalam menjalankan agama Allah, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman” (QS. An-Nur:2)

Sungguh aniaya orang yang hidupnya hanya mencari kepuasan dunia, kepuasan yang hanya sesaat, menuruti hawa nafsunya, membiarkan Iblis bersemayam dalam dirinya dan dosa menjadi kebanggaan, tidak menyadari di dunia akan hilang kewibawaannya, pendek umurnya dan fakir bahkan di akhirat nanti akan mengalami penderitaan, kepedihan, mendapat murka dan adzabNya Allah.
Sabda Rasulullah SAW:
Artinya: “Hai golongan orang iman, takutlah kalian akan berbuat zina, karena sesungguhnya di dalamnya ada enam perkara, tiga perkara di dunia dan tiga perkara di akhirat. Maka adapun tiga perkara yang ada di dunia: hilangnya kewibawaan, pendek umurnya, dan kekalnya kefakiraan. Dan adapun tiga perkara di akhirat : mendapat murka Allah, sejelek-jeleknya hisaban, dan siksa akhirat (neraka)”, (HR. Baihaqi)

Artinya: “Ada tujuh golongan yang Allah tidak melihat mereka di hari kiamat dan Allah tidak mau mensucikan dan Allah tidak mau mengumpulkan bersama-sama orang yang beramal kebajikan dan Allah akan memasukkan mereka ke neraka, kecuali bahwasannya mereka bertaubat. Dan barang siapa yang bertaubat maka Allah akan menerima taubatnya. (Tujuh golongan itu adalah): Orang yang menikahi tangannya (onani/masturbasi) dan orang-orang yang mengerjai dan dikerjai (homo sex dan lesbian), dan orang yang membiasakan minum arak, dan orang yang memukul kedua orang tuanya hingga minta tolong, dan orang yang menyakiti tetangganya hingga melaknatinya dan orang yang menzinai (istri) tetangganya”. (HR. Al-Imam Hasan)

Upaya menjauhi dan menghindari perbuatan maksiyat:
1. Meningkatkan kefahaman dan ketaqwaan kepada Allah.
2 Memperbanyak mengaji (mencari ilmu).
3 Senang mendengarkan nasehat, tausiyah, ceramah agama.
4 Bergaul dengan orang-orang yang sholeh.
5 Meningkatkan taqorrub ilallah
6 Menghindari perbuatan yang mengarah pada perzinaan
7 Tidak berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahromnya (di tempat sepi).
8 Menjaga pandangan mata dan menutup aurot.
9 Menyibukkan diri dengan kegiatan positif.
10 Tidak menonton tayangan porno, dll.

Written by Budi Luhur dan Ariewayq

Siapakah Sahabat Anda


Alhamdulillahi hamdan katsiran toyyiba mubarakan fiihi yamla-u arja-assamaawaat wal aradhiin. Wa-asyhadu alla ilaaha illallah wahdahu laa syariikalahu laa walada walaa waalida lahu walaa nadiida walaa qasiima. Wa-asyhadu anna muhammadan “abduhu warasuuluh sholallahu ‘alaihi wasalam wa ‘alaa aalihi waashhabihi amma ba’du:

Syetan dan jin berkembang biak terus sejak diciptakan sampai sekarang. Iblis termasuk golongan syetan serta anak-anaknya yang sering menggoda dan menyesatkan manusia adalah Zalnabur, Tzabar, A’war, Maswath, dan Dasim. Jin ada yang iman dan ada yang menjadi pengikut Iblis dan anak-turunnya, tempat tinggal mereka ada yang di darat, laut, udara, hutan-hutan, jurang-jurang, lembah-lembah, gunung-gunung, kota, desa, luar rumah, dalam rumah bahkan kemana kita pergi ada yang selalu mengikuti kita. Mereka juga bisa masuk ke dalam badan kita melalui darah kita.

Dari sini dapat kita ketahui bahwa sebenarnya kita telah dikepung oleh mereka dari segala arah agar kita terpengaruh akhirnya jadi orang sesat.

Untuk membentengi diri kita dari usaha Iblis tersebut, perlu kiranya diterangkan lebih lanjut tentang tekad Iblis dan usaha-usahanya, sasaran mana yang dituju dan apa target yang hendak dicapai dan tahapan-tahapannya, kemudian bagaimana kita menangkal semua tipu dayanya dan lain-lain.

Iblis bertekat memenuhi sumpahnya dan benar apa yang menjadi sangkaanya. Iblis telah mengerahkan segala potensi yang ada melalui anak cucunya, melalui jin-jin kafir yang menjadi pengikutnya, manusia-manusia yang menjadi tentaranya ditunjang dengan perkembangan sarana dan prasarana serta semua perlengkapan yang memungkinkannya dengan tekad memenuhi sumpahnya dihadapan Allah Azza wa jalla dengan keyakinan usaha pasti berhasil memperdayakan manusia, maka banyak yang masuk perangkapnya menjadi orang-orang fasiq, dholim, munafiq dan kafir.
Allah berfirman : Walaqad shoddaqa ‘alaihim ibliisu dhonnahu fa-atba’uuhu illa fariiqa minal mu’miniin. (QS: Saba’: 20)
Artinya; Dan sungguh Iblis membenarkan sangkaan terhadap mereka, mereka mengikuti kepadanya kecuali segolongan orang-orang mu’min.

Iblis mempunyai kesempatan menyesatkan manusia sangat lama yaitu sampai datangnya hari kiamat, dari sejak zaman nabi Adam sampai sekarang sudah mempunyai pengalaman berjuta-juta dalam hal menyesatkan manusia, dia sangat professional. Perhatikan percakapan Syetan dengan Allah dalam QS. Al-A’rof: 14-17, yang artinya: “Setan berkata: Wahai Tuhan berilah aku tempo (untuk menyesatkan manusia) sampai dengan hari kiamat. Allah berfirman: engkau Iblis termasuk orang yang diberi tempo. Iblis berkata: sebab Engkau telah menyesatkan aku niscaya aku akan duduk untuk mereka di jalanmu yang lurus, kemudian aku sungguh akan datang pada mereka dari hadapan mereka, dari belakang mereka, dari kanan mereka, dari kiri mereka dan tidak Kamu dapati kebanyakan dari mereka orang-orang yang bersyukur”.

Dari ayat di atas dapat diketahui cara Iblis menjerumuskan manusia kelembah kesesatan dengan cara:
1. Semua jalan Allah diduduki Iblis.
2. Iblis datang dari segala arah dari muka, belakang, kiri dan kanan.
3. Iblis menghiasi amalan-amalan yang jelek supaya kelihatan baik, amalan-amalan yang jahat kelihatan biasa saja, amalan yang keji kelihatan memuaskan menyenangkan, lezat, nikmat sehingga banyak orang yang terpikat.
4. Iblis memberi angan-angan yang muluk-muluk atau harapan-harapan yang menyenangkan padahal kosong belaka.
5. Iblis menyesatkan melalui tempat-tempat vital dengan taktik strategi yang hebat berdasarkan banyak pengalamannya.

Hati secara fisik adalah organ tubuh yang bentuknya seperti buah nanas, organ tubuh yang paling penting untuk menggerakkan darah mengalir ke seluruh tubuh. Adapun secara rohani hati bagi anggota badan ibarat raja yang mengatur bala tentara, semua bersumber pada perintahnya, ia mendayagunakan anggota bandan merut yang dikehendakinya, semua tunduk dibawah kekuasaannya. Dari padanya diperoleh kebaikan, keteguhan dan lain-lain yang baik. Tetapi dari padanya pula diperoleh kejahatan-kejahatan, penyimpangan-penyimpangan dan semua yang jelek-jelek yang membawa kerusakan. Dalam Hadts, Nabi Muhammad, Saw Berdabda yang artinya:
“Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal daging, jika baik maka baiklah seluruh tubuh, jika rusak maka rusaklah seluruh tubuh ketahuilah dia itu adalah hati”.(HR Bukhori).
Karena hati menjadi ukuran baik-buruknya seseorang maka sasaran iblis dalam menyesatkan manusia adalah menyerang hatinya.terlebuh dahulu dengan bermacam-macam fitnah. Kerusakan/fitnah yang dihadirkan oleh syetan/iblis ke dalam hati seseorang seperti orang menganyam tikar sehelai-demi sehelai,sedikit demi sedikit terus menerus. Dalam menerima fitnah hati dibagi dua:

1. Hati yang jika didatangi fitnah menerimanya, sehingga hatinya banyak noda hitam, tidak dapat membedakan baik dan buruk
2. Hati yang jika didatangi fitnah menolak, sehingga hatinya bersih, seperti batu marmer putih yang bisa memantulkan sinar.

Fitnah yang masuk dalam hati antara lain:
1. FITAN ASSYAHAWAAT, ialah keinginan-keinginan yang tidak dapat dikendalikan seperti keinginan seseorang untuk mendapatkan lawan jenis.
2. FITAN ASSYUBUHAAT, ialah fitnah kerancuan, serupa-serupa, tidak jelas apakah itu halah atau haram, syitik atau tidak, haq atau batal.
3. FITAN ALGHOYI WADDOLAL, ialah fitnah kesesatan, kesesatan itu dimasukkan dalam hati sedikitdemi sedikit, oleh karena itu kita harus hati-hati dan teliti.
4. FITAN ALMA’AASHI WAL BIDA’, ialah fitnah pelanggaran, kemaksiatan dan bid’ah yang bisa membawa kepada syirik dan kufur.
5. FITAN ADHULMI WAL JAHLI, ialah fitnah aniaya dan kebodohan, hati jadi kejam, jahat suka menganiaya karena kebodohan hati membabi buta.

Tempat-tempat masuknya syetan
Syetan masuk ke dalam hati seseorang untuk merusak dan menyesatkan, melalui beberapa hal yaitu:
1. ALJAHLU, kebodohan. Kebodohan itu mematikan hati dan membutakan penglihatan, sehingga tidak dapat membedakan baik dan buruk.
2. AL GHODOBU, marah. Tempat masuk dan perangkapnya syetan
3. HUBU ADDUNYA, cinta dunia, lebih mencintai dunia dan meremehkan akhirat.
4. THULU AL-AMAL, panjang angan-angan, karena mengejar angan-angan sampai lupa/melalaikan waktu untuk ibadah.
5. ALHIRSU, keinginan, keinginan yang menggebu dan tidak terkontrol.
6. ALBAKHLU, kikir . Takut miskin apabila infaq, shodaqoh dan zakat
7. ALKIBRU, sombong. Menolak yang haq dan meremehkan orang lain.
8. HUBBU ALMAD-HI, senang dipuji, orang terlalu senang berlebihan apabila dipuji itu tempat syetan menyerang, sehingga menjadi ujub.
9. ARRIYA’, pamer. Pamer merupakan salah satu pintu syetan untuk masuk dalam hati seseorang, oleh karena itu niatnya supaya dijaga dengan niat muhlis karena Allah semata.
10. AL’UJBU, merasa hebat sendiri (ujub). Merasa dirinya paling pandai, kuat, cerdas, jarang sakit, sehingga minta selalu ditinggikan
11. ALJAZA’U WAL HALA’U, susah gelisah yang berkepanjangan. Susah gelisah menyesali keadaan, mengingat-ingat musibah yang menimpa dirinya, meratapi yang berlebihan.
12. ITTIBA’U ALHAWA, mengikuti hawa nafsu, mengikuti hawa nafsu menjadi temen dekat syetan.
13. SU’UDHON, sangka buruk , saling curiga, sehingga timbul perselisihan, perkelahian, permusuhan sesama muslim.
14. IHTIQARU ALMUSLIM, meremehkan sesama muslim. Meremehkan dan menghina orang muslim itu merupakan jebakan iblis untuk merusak hati manusia.
15. IHTIQARU ADZUNUB, meremehkan dosa. Meremehkan dosa kecil lama-lama terakumulasi sehingga dosa besarpun dilakukannya
16. AL-AMNU MIN MAKRILLAH, merasa aman dari siksa Allah.
17. ALQUNUUTHU MIN RAHMATILLAH, putus asa dari rahmatnya Allah.

Melihat betapa gigihannya dan kelihaian iblis dalam menyesatkan manusia, maka wajib bagi kita untuk melepaskan diri dari jeratan dan jebakan/perangkan Iblis. Tidak ada jalan lain untuk terlepas dari jeratan dan jebakan iblis kecuali dengan menjadi hamba Allah yang muhlasin. Iblis telah menyatakan bahwa dia tidak dapat menggannggu/menggoda hanyalah kepada hamba-hamba Allah yang mu’min dan muhlisin
Allah berfirman (Qs. Alhijr: 39-40) yang artinya:”Berkata Iblis wahai Tuhan, sebab Engkau telah menyesatkan aku, maka niscaya akan aku hiasi (amal-amal) bagi mereka di dalam bumi dan niscaya aku sesatkan mereka semua, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlasin”.
Siapakah sebenarnya mukhlasin itu?
Mukhlasin yang selamat dari usaha Iblis ialah orang-orang yang benar-benar murni ibadahnya (berdasarkan AlQuran dan AlHadits) tidak dicampuri bid’ah khurofat, syirik, takhayul, selalu niat karena Allah, bersih hatinya dari riya’ dan dari ujub terhadap diri sendiri, yang selalu melakukan kewajiban beribadah dengan sungguh dan benar. Mereka menunaikan sholat, puasa, ruku’, sujud, (haji,towaf, umrah bagi yang mampu), menyembelih qurban, zakat, infaq, shodaqoh, hatinya khusu’, tawadlu’, rendah hati, cintanya kepada Allah dan Rasul melebihi yang lain. Takut siksa Allah, mengharapkan rahmat Allah, mengagungkan kepada yang berhaq diagungkan, mentaati kepada yang berhaq ditaati, senang beribadah, selalu memohon perlindungan kepada Allah(berdoa), dzikir, dan berusaha hidupnya semata-mata diserahkan kepada Allah, Swt.
Inilah yang harus kita miliki sehingga menjadi mu’min dan mukhlasin.

Written by Budi Luhur dan Ariewayq

Pemimpin Indonesia


Alhamdulillah alladzii hadaanaa lil-islam wal iimaan wal ihsaan asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuuluhu shollallahu alaihi wasalam wa alaa alihi wa ashhsbihi amma ba’du:

Puji syukur kita haturkan kepada Allah SWT yang telah menjadikan kita sebagai kholifah fil ard dan telah menunjukkan kita ke jalan yang benar yaitu dengan menetapi agama Islam yang haq ini. Lebih-lebih kita hidup di zaman Khoir dimana agama Allah yang haq ini dapat berjalan dan berkembang dengan baik, senantiasa dalam lindunganNya. Dapat kita bayangkan apabila kita hidup di zaman Syar, yaitu zaman dimana peraturan-peraturan Allah dan RasulNya sudah tidak bisa lagi berjalan dengan baik, kemaksiatan merajalela dimana-mana, bahkan banyak golongan yang mengajak ke jalan yang sesat.

Kalau kondisi zaman sudah mengalami hal yang paling buruk, Rosulullah memberikan petunjuk pada umatnya untuk melakukan uzlah yaitu mengasingkan diri menjauhkan diri dari kemaksiatan dan firqoh agar selamat dari pengaruh buruk di zaman itu (HR. Muslim).

Untuk mempertahankan zaman khoir, antara pemimpin (Umaro’) dan ro’yah (rakyat) supaya bekerja sama dengan baik, tahu haq dan kewajibannya masing-masing, sebagi pemimpin (umaro’) berkewajiban memberikan nasehat/arahan, ijtihad/kebijakan dan mengatur adil disertai rofiq, muhsin, aris sedangkan ro’yah (rakyat) berkewajiban tho’at bilma’ruf (mentaati peraturan Allah dan Rasul serta perundang-undangan yang berlaku) dan syukur kepada Allah. Firman Allah dalam Al-Quran yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman tho’atlah kalian kepada Allah dan tho’atlah kalian kepada Rosul dan kepada ulil-amri dari kalian” (QS. Annisa’:59).

Perintah adil untuk seorang pemimpin:

I’diluu huwa aqrabu littaqwa artinya “berbuat adillah kamu sebab adil itu lebih mendekatkan pada ketaqwaan”(Qs.Almaidah:8).

Pada dasarnya adil adalah merupakan kewajiban semua orang iman. Karena setiap insan adalah pemimpin, baik pemimpin dalam rumah tangga, masyarakat, instansi/lembaga maupun pemerintahan Rasulullah bersabda: ……Kullukum ro’in wakullukum mas-ulun ‘an ro’yatihi …, artinya:” Setiap kamu sekalian adalah pengembala (pemimpin) dan setiap pengembala (pemimpin) akan ditanya tentang apa yang digembalanya/dipimpinnya (ra’yah)”(HR. Bukhari) Umaro’ juga pengembala, dia akan ditanya tentang gembalaanya(ro’yah), seorang laki-laki juga pengembala dia akan ditanya tentang keluarga dan anak-anaknya, bahkan seorang budakpun juga pengembala dia akan ditanya tentang harta majikannya. Adilnya seorang pemimpin yang baik adalah tidak pandang bulu/ tidak membeda-bedakan suku, ras, golongan dan lain-lain walupun dengan keluarganya sendiri kalau salah tetap dikatakan salah seperti yang telah dilakukan oleh rasulullah dalam sabdanya yang artinya: “ Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri niscaya aku potong tangannya” (HR Bukhari)

Adilnya seorang pemimpin harus disertai dengan rofiq – muhsin – aris

Penjelasan:

Rofiq : welas asih, kasih sayang, ramah tamah, lemah lembut

Muhsin : berkata yang baik, bertingkah laku yang baik, berbudi pekerti yang luhur/baik

dan senantiasa berusaha mewujudkan kebaikan untuk kepentingan agama,

Bangsa, ro’yahnya/rakyat, keluarganya maupun dirinya sendiri.

Aris : Sabar, lapang dada, tidak mudah marah, tidak mudah mendiskreditkan golongan

tertentu maupun ra’yahnya.

Lebih jelasnya kita hayati dalil-dalil berikut ini:

Firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat adil dan berbuat baik dan memberikan hak kepada kerabat-kerabat dan mencegah dari yang keji dan yang munkar dan durhaka, Allah menasehati pada kalian agar kalian ingat”.(QS. Annahl: 90).

Firman Allah (QS. Annisa’: 135) yang artinya: “ Wahai orang-orang yang beriman jadilah kalian orang-orang yang menetapi adil sebagai saksi-saksi bagi Allah dan meskipun memberatkan diri kalian sendiri atau kedua orang tua dan kerabat-kerabat, Jika (yang disaksikan itu) kaya atau fakir maka Allah yang lebih berhak kepada keduanya. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu untuk berbuat tidak adil dan jika kalian menyimpang atau berpaling maka sesungguhnya Allah Maha Waspada dengan apa yang kalian kerjakan”.

Sabda Rasulullah saw, yang artinya:”Dimana ada seorang pengatur yang dijadikan pengatur/pemimpin, maka ia lemah lembut dan kasih sayang (kepada ra’yahnya), maka Allah sayang kepadanya di hari kiamat.(HR. Ibnu Abidunya)

Dalam hadits Bukhari Rasulullah bersabda yang artinya:”Mudahkanlah dan jangan menyulitkan, gembirakanlah dan jangan menyebabkan mereka lari. (HR. Bukhari)

Pengertian hadits ini sesuai dengan konsep otonomi daerah yaitu pelayanan yang baik untuk masyarakat, memberikan kemudahan sehingga rakyat senang. Jangan seperti isu yang berkembang saat ini, yaitu ada pepatah ;kalau bisa dipersulit mengapa harus dipermudah. Yang ujung-ujungnya bermuara pada imbalan jasa/hadiah dan yang sejenisnya.

Dalam Hadits lain Rasulullah menjelaskan “Al’urafa-uhu khodimahu” yang artinya: ”Pemimpin/pengurus itu adalah pelayan”. Usahakan kita sebagai pemimpin dapat melayani masyarakat dengan sebaik mungkin.

Apabila seorang pemimpin dalam melaksanakan tugas ada kekeliruan/ kekhilafan atau secara pribadi pemimpin tersebut ada prilaku yang kurang terpuji, wajib bagi wakil-wakilnya (perangkatnya) atau rakyatnya untuk mengingatkan dengan cara yang baik dengan tujuan yang baik yaitu untuk kebaikan pemimpin itu sendiri dan untuk kebaikan semua ra’yahnya (rakyatnya). Jangan sampai mengadakan lakon-lakon atau gerakan-gerakan provokatif kepada masyarakat mencari dukungan dengan mengumpulkan tanda tangan sebanyak-banyaknya atau mengadakan demontrasi yang bertujuan menjatuhkan/menggulingkan pemimpin dengan alasan reformasi.

Bagi wakil-wakil pemimpin, pengatur/pengurus (jajaranya) supaya selalu memperkuat dan mendukung dan melancarkan arahan dan kebijakan yang dibuat oleh pimpinan yang tidak maksiat dan bepihak kepada kesejahteraan rakyatnya. Tidak meresolusi, tidak menghambat, tidak merongrong kewibawaan pemimpin, dan juga harus memiliki sifat-sifat yang dimiliki oleh pimpinannya yaitu: adil, rofiq, muhsin, aris, dengan harapan mendapat kemulyaan dan derajat yang tinggi di sisi Allah. Sabda Rasulullah saw, yang artinya;”Tidak ada manusia yang lebih besar pahalanya dari pada wakil yang sholeh, wakil itu bersama umaro’nya yaitu umaro’nya memerintah dengan menegakkan dzatNya (peraturan Allah) kemudian ia mentaatinya (HR Ibnu Annajar)”.

Buah kepemimpina yang adil:

1. Terciptanya suasana kehidupan yang tentram dan damai di dalam masyarakat dengan diwarnai dengan hubungan harmonis antara ro’in (pengembala/pemimpin) dengan ro’yah (rakyat/yang dipimpin) sehingga tumbuh rasa saling cinta-mencintai dan saling doa dan mendoakan, dengan keadilan pemimpin rakyat akan senang, merasa terayomi, mudah diatur dan diarahkan untuk berjuang menuju kebaikan, masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah (baldatun toyyibatun warobbun ghofur)
2. Berkembangnya kwalitas sumber daya manusia (SDM) di seluruh pelosok yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat dan kesemangatan untuk belajar dan amar ma’ruf.
3. Terwujudnya sarana dan prasarana ibadah dan pendidikan yang cukup memadai karena masyarakat terutama aghniya’nya (orang kaya) dermawan ridho dan ikhlas menyisihkan sebagian hartanya untuk keperluan fasilitas umum seperti tempat ibadah dan pendidikan serta merasa bersyukur bisa ikut andil dalam perjuangan dan punya amal jariah yang banyak.
4. Meningkatnya kesejahteraan dan ekonomi masyarakat karena banyak angkatan kerja yang bisa terserap sehingga mendapat penghasilan yang memadai serta masyarakat dapat diberdayakan dengan usaha mandiri yang halal.

Written by Budi Luhur dan Ariewayq

Followers

JavaScript Free Code